Jangan Kau Ambil Hak ku, Royalty ku, itu Rezeki ku!

Penulis. R. Fendi Haris Syuhada

Ketika adzan berkumandang disertai dengan ayam berkokok di pagi hari, dengan penuh semangat aku menuju kamar mandi dan kemudian bergegas menunaikan ibadah sholat subuh secara berjamaah bersama istriku. setelah sembah sujud pada sang maha tunggal, tanpa sadar naluriku hendak menuju sebuah laptop mungil yang dihadiahkan oleh seorang yang spesial yaitu orang tuaku.

Ingin rasanya aku menuliskan coretan tinta demi tinta yang tergores di buku note pribadiku kemudian aku ketikkan di laptop mungilku itu. ya, buku note itu adalah teman sejatiku. teman yang selalu suka dan duka menemani aku dan rela aku kotori walau sebenarnya aku jamah dengan tinta emas.

Aku sadar bahwa maha karya memang terlahir dari berbagai macam peristiwa yang sangat penting. seperti saat hujan misalnya, bagaimana aku bisa menuliskan tentang peristiwa dibalik basahnya anak sekolahan. melihat keseruan mereka lah hingga aku pun kadang harus hujan-hujanan bersama mereka hanya untuk mendapatkan sebuah catatan emas.

Ketika semuanya tersusun rapih maka saatnya aku olah untuk pemindahan dari buku note ke laptop agar memudahkan kembali aku melakukan pengecekan kata demi kata terhadap tulisan ku sebelum menjadi sebuah buku yang siap edar dan di konsumsi oleh seluruh masyarakat indonesia dengan cara membaca.

Bahkan dalam proses pembuatan sebuah buku dibutuhkan tenaga ekstra seperti harus sehat dan vit kemudian waktu yang efisien agar bisa mendapatkan hasil yang optimal serta perjalanan panjang lainnya.

Dan yang harus kamu ketahui , bahwasanya dalam mengulik sebuah tulisan menjadi buku itu sangat susah susah gampang. susahnya ya ketika tidak memperoleh ide, kemudian gampangnya adalah ketika buku sudah jadi.

Kadang dalam membuat buku juga adakalanya harus berkeringat dingin terlebih dahulu, kurang makan, kurang tidur bahkan harus rela jauh dari keluarga. Walau sebenarnya bisa diatur waktunya dengan cara menjadi penulis yang smart people.

Dan itu semua yang melatarbelakangi aku Untuk Ingin Menjadi Penulis dimana aku memimpikan di masa mendatang karyaku bisa dihargai setinggi-tingginya. Aku dapat rezeki dari royalty untuk kehidupan lebih baik..

Problematika Penulis

Namun kenyataannya ini juga yang membuat seluruh penulis lokal hingga dunia harus gigit jari hanya diakibatkan oleh wabah penyakit para oknum yang sabotase hak intelektual penulis. tidak lain dan tidak bukan dengan cara menjiplak, mengcopy, serta mengedarkan dengan cara membajak satu hingga jutaan lembaran hasil karya penulis.

Sungguh itu adalah perbuatan keji dan mungkar. pembunuhan karakter yang disajikan tidak elok hanya untuk kepentingan pribadi. apa jadinya isi kantong tersebut yang sebenarnya itu adalah lembaran rupiah bertitel dosa.

Pembajakan Buku Semakin Menjamur

Kini para oknum tidak memperdulikan hak cipta, karena baginya yang penting jualan, dapat untung dan bisa makan. mereka tidak perduli bagaimana saat penulis harus “Berkeringat dingin, kurang makan, kurang tidur dan jauh dari keluarga” hanya untuk menorehkan karya terbaik penulis.

Dengan membajak sebuah buku mereka pun tidak pandang buluh, tidak pandang halal haram, tidak perduli rezeki penulis yang notabene hanya didapatkan dari secarik royalty.

Bukannya sang penulis juga memiliki hak untuk hidup? bukannya penulis juga mempunyai hak untuk menikmati karya? Bukannya sang penulis memiliki keluarga yang harus dinafkahinya? Namun sekali lagi beribu-ribu amat disayangkan oknum pembajak yang lagi-lagi merasa masa bodoh dengan semua itu. dan terbukti dengan maraknya Oknum Pembajakan Buku di Indonesia tercinta ini.

Oleh sebab itu mari bersama untuk memberikan applause dan penghargaan yang setinggi-tingginya bagi sang penulis buku dengan cara membeli buku yang asli. agar hak royalty dan rezeki penulis juga diberkahi. kamu dapat ilmu dan informasi dari buku tersebut, sedangkan penulis juga dapat berkahnya ilmu yang kamu dapati itu. sungguh sejuk rasanya..

Kebanyakan Pembeli Buku Masih tidak paham mana yang asli dan mana yang bajakan

Penting sekali untuk memberikan literasi pada semua masyarakat indonesia agar dapat membeli buku yang 100% asli dan Original agar Metabolisme Hak hingga royalty penulis juga diperolehnya. Pembeli harus selektif dan mengetahui beberapa point penting dibawah ini:

  1. Harga Lebih Murah hingga 50%. Biasanya ini yang membuat dengan royal membeli buku dengan harga jauh lebih murah. padahal itu Bajakan. Giliran Bukunya Jelek dan cepat rusak ngomel-ngomel.
  2. Dilihat kualitas Kertasnya. Untuk buku yang asli biasanya dalam penerbitannya, penerbit menggunakan kualitas kertas paling bagus seperti HVS dan ArtPaper. untuk buku bajakan sendiri biasanya menggunakan Kertas kualitas rendah atau bahkan barang bekas seperti Olahan dari Koran bekas. dan bisa dibayangkan dan ditebak, betapa cepat rusak dan mudah robek untuk buku bajakan tersebut.
  3. Lem ala kadarnya. Jika kamu pernah menemui dan hendak membeli buku namun ketika kamu buka ternyata kertasnya copot ya berarti itu dipastikan adalah Buku Bajakan. Karena Lem yang digunakan lagi-lagi yang kuallitasnya rendah.

Gimana, sekarang sudah tau kan betapa tidak etisnya Buku Bajakan dari sisi fisiknya? Masih mau beli yang bajakan? Ayo bersama katakan TIDAK LAGI ..

Tapi kenapa masih banyak yang masih membeli buku bajakan ya?

Pasti pertanyaan ini terlintas untuk segera dijamah dan dipertanyakan. Pertama untuk menjawab pertanyaan itu menurut aku memang dari manusianya sendiri dalam hal ini adalah pembeli. pembeli maunya mencari buku itu ditempat tempat yang murah, karena bagi pembeli hanya ingin isinya saja tanpa memikirkan keseluruhan buku sendiri dan boro-boro memikirkan jauh tentang hak intelektual penulis aslinya.

Itu bisa dikatakan sebagai bocornya sumber daya manusia pembeli yang tidak mau memahami serta menghargai penulis yang asli. oleh sebab itu mari perbaiki diri sendiri kemudian berusaha membeli buku yang 100% asli BUKAN BAJAKAN.

Seperti Membeli Buku Asli di Mizan Store

Membeli buku yang asli 100% Original bisa didapatkan bersama penerbit yang terpercaya hingga 30 tahun yang sudah malang melintang mencerdaskan bangsa yaitu Mizan

Dan untuk menjawab tantangan di era digitalisasi Mizan juga hadir dalam versi online yaitu Mizanstore.com dimana menjual buku buku berkualitas yang asli BUKAN BAJAKAN.

Jadi mari bersama – sama secara bergotong royong menggalakkan dan memerangi Pembajakan Buku yang ada di indonesia. Kalau bukan Kita, Siapa Lagi?

Demikianlah artikel berjudul “Jangan Kau Ambil Hak ku, Royalty ku, itu Rezeki ku! ” ini telah tayang. Artikel dan narasi ini merupakan “Pemikiran dan Pendapatku selaku penulis terhadap Pembajakan Buku di Indonesia. Semoga bermanfaat.

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *